Mengapa Anda Harus Menikah karena Dien: Peringatan dari Syekh Utsaimin

Haruskah Anda menikahi seseorang dengan harapan dia akan berubah? Syekh Utsaimin memberikan aturan yang jelas dan pasti tentang pernikahan berdasarkan keyakinan dan amalan saat ini.

Fiqih Nikah4 menit membacaOlehTim SalafiMatch
Dua cincin kawin

Menikahlah dengan seseorang berdasarkan siapa dirinya HARI INI - BUKAN berdasarkan apa yang Anda inginkan ingin mereka menjadi BESOK ⏳❌➡️✅

Pertanyaan:

Seorang laki-laki yang tidak shalat telah melamar seorang yang berkomitmen (ملتزمة) wanita muda, dan dia setuju untuk menikah dengannya, percaya bahwa dia akan dapat membimbingnya menuju kebenaran dengan mendorongnya untuk berdoa dan menjalankan kewajiban agama. Apakah keputusannya benar dan bolehkah dia menyetujui pernikahan ini? Dia meminta saran dan bimbingan Anda. 🤔💭

Syekh Utsaimin raḥimahullāh : 📿

Pendapatnya salah dan bahkan tidak valid. ❌ Dia tidak boleh menikah dengan laki-laki tersebut. Orang yang tidak salat dianggap murtad 🛑, dan tidak halal bagi siapa pun untuk menikahkannya - meskipun di kemudian hari diasumsikan ia akan berubah. Kami katakan bahwa ilmu tentang masa depan hanya milik Allah 🕊️, dan Dia malah bisa memberikan pengaruh negatif pada istrinya yang shalih. Oleh karena itu, kita sebaiknya hanya mempertimbangkan situasi saat ini. ✅

Jika laki-laki tidak shalat, maka tidak boleh ada yang mengawininya putri kepadanya. 👎

Oleh karena itu, kami berpesan agar wanita tersebut tidak menikah dengan pria tersebut dalam kondisi apapun 🚫💔 dan tidak berasumsi bahwa dia bisa mengubahnya setelahnya. Kita harus fokus pada apa yang saat ini ada di depan kita, dan masa depan hanya diketahui oleh kita Allah. 🔮📿

Selain itu, ada kemungkinan bahwa pengaruh tersebut dapat berhasil arah sebaliknya, yang dengannya dia menyesatkan wanita shaleh. ⚠️😞

Ada juga catatan kecil: Saya lebih suka orang menggambarkan pria yang seperti itu berkomitmen pada agamanya sebagaiمستقيم"tegak" 🧍‍♂️✨ daripadaملتزم"berkomitmen" karena ini sejalan dengan Al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah SWT (ditafsir maknanya),

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ dan kemudian tetap tegak” (QS 41:30).

Dia tidak mengatakan "dan kemudian berkomitmen." Dengan demikian, menggambarkan a orang yang beragama sebagai "jujur" lebih akurat menurutnya Al-Qur'an daripada menggunakan istilah "berkomitmen". 📖✅

Terlebih lagi, “berkomitmen” memiliki arti yang berbeda dalam Fiqih, apa adanya terkenal dalam putusan Ahl Adh-Dhimmah. ⚖️📘

Kesimpulan:

Saya mendorong orang untuk mengganti istilah "berkomitmen" dengan "tegak", sebagaimana istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an. 📜

BagikanAda apatelegramX